Yamaha Optimis Saingi Marquez

Yamaha tampil menawan belakangan ini. Manajer tim Yamaha Maio Meregalli optimistis Valentino Rossi dan Mavcrick Vinales akan mampu menyaingi Marc Marquez.

Performa Yamaha bisadibilang cukup mengejutkan setelah terlihat kurang menyakinkan di tes pramusim. Rossi dan Vinales sukses berada di tiga besar membuntuti Marquez yang memuncaki klasemen sementara.

Delapan podium dihasilkan Yamaha di paruh pertama musim 2018. Vinales sekali finis runner-up dan dua kali naik podium ketiga berturut-turut di Assen dan Sachsenring, sedangkan Rossi bahkan lebih kompetitif. Pembalap tertua MotoGP ini lima kali finis podium dengan empat kali merebut posisi ketiga dan finis kedua di balapan terakhir.

Paruh kedua musim akan bergulir pada pekan depan, yang dimulai di Republik Ceko. Kemenangan terakhir Yamaha di Sirkuit Brno terjadi pada sembilan tahun silam melalui Rossi.

Setelahnya, Y amaha baru bisa kembali ke podium Brno mulai 2014 di mana Rossi dua kali finis ketiga dan sekali runner-up pada 2016. Sedangkan pada tahun lalu. Vinales mampu menyudahi balapan di posisi ketiga.

Marquezakan kembali menjadi favorit di Brno, mengingat konsistensinya di sepanjang musim setelah memenangi lima dari sembilan seri pertama. Meregalli optimistis dengan peluang Yamaha.

“(Brno] secara umum merupakan sebuah lintasan yang bagus untuk kami, jadi saya percaya diri,” Meregalli mengungkapkan di GPOne, Kamis (26/7).
“Honda memang sudah melakukan ujicoba di sana belakangan ini, mereka mungkin memiliki sebuah keuntungan besar di sesi-sesi awal. Namun, di atas kertas kami seharusnya bisa menyaingi mereka.”

“Kami seharusnya menerima sebuah pembaruan elektronik. Faktanya, saya belum menerima konfirmasi resmi tentang pembaruan itu. Bisa dibilang saya amat mengharapkannya.” (dtc)

Empat Pelaku Kejahatan Jalanan Dibekuk

Empat Pelaku Kejahatan Jalanan Dibekuk

Warga Disilakan Ambil Kendaraan

PRAYA-Satgas pem-beratasan kejahatan jalanan Polres Lombok Tengah membekuk empat pelaku pencurian kendaraan bermotor dan pencurian dengan pemberatan. Para pelaku kini mendekam di balik jeruji Polres Loteng setelah ditangkap bersama barang bukti hasil kejahatan.
“Silakan, yang merasa memiliki kendaraan, datang ke Polres,” kata Ka-sat Reskrim Polres Loteng Ajun Komisaris Polisi Rafles R Girsang, kemarin (26/7).

Mereka yang ditangkap adalah SB (inisial) warga Dusun Sentalan Desa Bile-lando, Kecamatan Praya Timur. Dia ditangkap terkait pencurian kendaraan di Dusun Kuta 1, Desa Kuta, Kecamatan Pujut. Barang bukti yang didapat dari SB masing-masing satu unit motor jenis Ka-wasai KLX nomor polisi DR 4462 U, telepon genggam, dan pisau.

Kemudian JL, warga Dusun Beleke Lauk, Desa Beleke, Kecamatan Praya Timur. Dia terlibat dalam aksi pencurian di jalan Sudirman, Kelurahan Praya. Barang bukti berupa, masing-masing satu unit motor Suzuki FU dan telepon genggam. Lalu, ditangkap SM dan NR, masing-masing warga Desa Ket-angga, Kecamatan Keruak, Lombok Tumur dan warga Desa Loangmaka, Kecamatan Janapria.

Keduanya, melakukan aksi di jalan persawahan Dusun Sengkerang 11 Desa Sengkerang, Kecamatan Praya Timur. “Keduanya dibekuk warga setelah korbannya berteriak maling,” ujar Rafles.

SM dan NR pun menjadi korban amuk massa. Beruntung keduanya tidak cedera parah. Mengingat beberapa warga dengan cepat membawa keduanya ke kantor polisi.

“Kasus ini harus menjadi pelajaran agar kita tetap waspada. Di mana pun dan kapan pun,” kata Rafles.

Karena yang namanya aksi kejahatan, lanjut pria asal Medan tersebut, bisa datang kapan saja. Untuk mencegahnya, parkir lah kendaraan di tempat yang aman. Kemudian, menggunakan kunci ganda. Yang tidak kalah pentingnya, jangar nekad melalui akses jalar raya sepi. “Kami pun, akar melakukan pengembangar kasus,” ucanya tanpa me rinci lebih detail. (dss/r8)

Politik SBY Memecah Koalisi Prabowo

Politik SBY Memecah Koalisi Prabowo.  Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas tampil rapi menghadiri orasi peringatan 1 tahun The Yudhoyono Institute oleh abangnya, Agus Harimurti Yudhoyono, di Jakarta Theater, Jumat malam, 3 Agustus lalu. Tema orasi malam itu “Muda adalah Kekuatan”. Ibas hadir mengenakan jas abu-abu, mirip jas yang dikenakan AHY malam itu juga.

Usai acara, Ibas keluar lebih dulu. Ia berjalan ke arah pintu, melempar senyum, lalu menghampiri para jurnalis yang sudah menumpuk di depan pintu. Belum sempat menyapa, seorang jurnalis perempuan mendahuluinya bicara.

“Mas Ibas, ngapain ke sini? Malam ini bintangnya Mas AHY, bukan Mas Ibas!” kata si jurnalis, ketus.

Seketika senyum Ibas padam. Ia membalikkan badan, lalu keluar dari pintu lain.

Ya, memang kini AHY menjadi bintang baru dalam politik. Namanya diperbincangkan sejak mundur dari militer lalu terjun ke politik, langsung diusung sebagai kandidat gubernur Jakarta lalu kalah. Modalnya menjadi bintang cukup belaka. Ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono, adalah presiden RI ke-6 sekaligus pemilik Partai Demokrat. Ia juga masih muda, usianya baru akan menginjak kepala empat pada bulan ini.

Bahkan, meski kalah telak pada Pilkada DKI Jakarta 2017, AHY tetap tak dibiarkan surut, diupakan terus beredar dalam orbit politik elite. Ia diberikan banyak ruang di partai agar selalu tampil. Pada Februari 2018, ia didapuk sebagai Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat untuk Pilkada 2018 dan Pilpres 2019. Belakangan, namanya beredar di sejumlah partai, ditawarkan sebagai calon wakil presiden 2019. Semua ini berkat peran bapaknya.

Lobi Menuju Cawapres

Nama AHY mulai muncul di survei capres-cawapres sejak Maret 2018. Namun, secara konkret, belum ada lobi-lobi politik yang dilakukan. Demokrat sendiri baru menggelar rapat membahas kriteria capres dan cawapres pada 9 Juli 2018 di rumah SBY di Kuningan.

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat Max Sopacua saat itu mengatakan Demokrat mengharapkan AHY bisa maju dalam Pilpres 2019. Sementara nama di luar Demokrat, ujar Max, baru Jokowi dan Prabowo yang sudah dibicarakan di internal partainya.

“Obsesi pertama dari Demokrat itu AHY. Apakah sebagai cawapres di tahun ini atau 2024 itu adalah obsesi Partai Demokrat. Tetapi bagaimanapun juga [realisasi] obsesi [AHY maju Pilpres] tidak ditentukan sendiri oleh partai demokrat,” kata Max.

Lobi ke eksternal Partai Demokrat baru dimulai saat Prabowo Subianto menjenguk SBY di RSPAD Gatot Soebroto pada 18 Juli 2018. Seharusnya, dua pimpinan partai itu sudah menjadwalkan pertemuan, tapi karena mendadak SBY sakit, pertemuan pun ditunda.

Pertemuan serius antara SBY dan Prabowo baru dilakukan pada 24 Juli 2018 di rumah SBY di Kuningan. Malam itu Prabowo disambut oleh SBY didampingi AHY di depan rumah. Pertemuan itu baru menjajaki kemungkinan koalisi antara Gerindra dan Demokrat.

Pada 30 Juli, SBY mengunjungi Prabowo di rumahnya di Jalan Kertanegara. Kali ini AHY absen mendampingi sang ayah; hanya Ibas dan sejumlah petinggi partai yang hadir. Usai pertemuan, SBY dan Prabowo memberikan keterangan pers bersama. Pada kesempatan itu SBY menegaskan Prabowo adalah calon presiden Demokrat.

“Kami datang dengan satu pengertian, Pak Prabowo adalah calon presiden kami,” kata SBY.

Politik SBY Memecah Koalisi Prabowo

Rivalitas Demokrat dan PKS

Meski sudah ada pernyataan soal capres, SBY menyerahkan nama cawapres kepada Prabowo. Saat itu sudah muncul sejumlah nama yang disodorkan sebagai cawapres Prabowo. PKS yang lebih dulu berkoalisi dengan Gerindra menyodorkan sembilan nama; yang paling santer adalah Salim Segaf Al-Jufri, Ketua Majelis Syuro PKS.

Kelompok yang mengatasnamakan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama menggelar “Ijtima Ulama” yang hasilnya menguatkan pilihan PKS. Ijtima menyodorkan dua nama calon wakil presiden untuk Prabowo, yakni Salim Segaf dan Abdul Somad, ustaz kondang asal Riau. Dua nama ini yang kemudian terus dikawal oleh PKS.

Namun, SBY tak tinggal diam. Usai bertemu Prabowo, masih pada hari yang sama, SBY bertemu dengan Salim Segaf dan para petinggi PKS di Hotel Grand Melia, Kuningan. SBY dan Salim bertemu empat mata, sementara petinggi PKS lain, termasuk Presiden PKS Sohibul Iman, menunggu di lantai berbeda.

Pertemuan ini tidak menghasilkan kesepakatan apa pun. SBY dan Salim justru bernostalgia saat mereka berada dalam satu koalisi. SBY sebagai presiden dan Salim sebagai menteri sosial. Dalam konferensi pers, Salim Segaf menyinggung soal hasil Ijtima Ulama yang merekomendasikan nama sebagai pendamping Prabowo. Sebaliknya, SBY sama sekali tidak menyebut keinginan Demokrat menjadikan AHY sebagai cawapres Prabowo.

“Tentu beliau akan menelaah semuanya, mendengarkan rekomendasi, menghitung pasangan mana yang paling baik untuk memimpin negeri ini, dan tentunya membikin koalisi ini tetap solid,” kaya SBY.

AHY Bermanuver, PKS Kelabakan

Sehari sebelum pendaftaran capres-cawapres dibuka, AHY membuat gebrakan. Ia melakukan orasi bertema “Muda adalah Kekuatan” di Jakarta Theater. Orasi itu dihadiri seribuan anak muda dan disiarkan langsung melalui tvOne.

Lewat orasi itu AHY menegaskan diri sebagai pemimpin muda yang layak diberi kesempatan untuk memimpin bangsa. Ia tak sungkan jika orasi itu dibaca oleh orang-orang sebagai upayanya meyakinkan Prabowo agar memilihnya sebagai cawapres.

“Kalau ini dinilai ada kaitannya dengan situasi politik terakhir, saya kira sah-sah saja, setiap orang akan mereka-reka langkah politik setiap figur, dan bagi saya, saya tidak melihat lebih ke sana, tapi ini merupakan konsistensi saya,” kata AHY, 3 Agustus lalu.

Sebelum itu, AHY sudah mendeklarasikan relawan di Gedung Joang pada 30 Juli. Bahkan baliho foto AHY sudah ramai terlihat di ibu kota dan beberapa daerah.

Saat AHY mulai melancarkan manuver, PKS agaknya gelisah karena Prabowo tak kunjung mengeluarkan nama kandidat pendampingnya.

PKS berkali-kali mengingatkan soal hasil Ijtima Ulama yang sudah diserahkan kepada Prabowo. Sampai-sampai keluar pernyataan dari petinggi PKS bahwa PKS tidak menjamin kebulatan suara ulama dan umat Islam mendukung Prabowo jika rekomendasi Ijtima Ulama ditolak.

Ketua DPP PKS Ledia Hanifa merespons sikap Prabowo yang tak kunjung memilih cawapres yang direkomendasikan oleh Ijtima yang diselenggarakan GNPF Ulama.

“Tergantung siapa yang dipilih. Umat, kan, punya pilihan,” kata Ledia kepada Tirto, 2 Agustus.

Anggota Majelis Syuro PKS Tifatul Sembiring sampai ikut mengingatkan Prabowo agar tetap setia dengan PKS.

“Demokrat istilahnya baru dekat. Kami berharap, ya, kami teman setia,” kata Tifatul sebelum pertemuan Prabowo-SBY.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id – Politik)

Politik SBY Memecah Koalisi Prabowo demi AHY

Politik SBY Memecah Koalisi Prabowo.  Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas tampil rapi menghadiri orasi peringatan 1 tahun The Yudhoyono Institute oleh abangnya, Agus Harimurti Yudhoyono, di Jakarta Theater, Jumat malam, 3 Agustus lalu. Tema orasi malam itu “Muda adalah Kekuatan”. Ibas hadir mengenakan jas abu-abu, mirip jas yang dikenakan AHY malam itu juga.

Usai acara, Ibas keluar lebih dulu. Ia berjalan ke arah pintu, melempar senyum, lalu menghampiri para jurnalis yang sudah menumpuk di depan pintu. Belum sempat menyapa, seorang jurnalis perempuan mendahuluinya bicara.

“Mas Ibas, ngapain ke sini? Malam ini bintangnya Mas AHY, bukan Mas Ibas!” kata si jurnalis, ketus.

Seketika senyum Ibas padam. Ia membalikkan badan, lalu keluar dari pintu lain.

Ya, memang kini AHY menjadi bintang baru dalam politik. Namanya diperbincangkan sejak mundur dari militer lalu terjun ke politik, langsung diusung sebagai kandidat gubernur Jakarta lalu kalah. Modalnya menjadi bintang cukup belaka. Ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono, adalah presiden RI ke-6 sekaligus pemilik Partai Demokrat. Ia juga masih muda, usianya baru akan menginjak kepala empat pada bulan ini.

Bahkan, meski kalah telak pada Pilkada DKI Jakarta 2017, AHY tetap tak dibiarkan surut, diupakan terus beredar dalam orbit politik elite. Ia diberikan banyak ruang di partai agar selalu tampil. Pada Februari 2018, ia didapuk sebagai Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat untuk Pilkada 2018 dan Pilpres 2019. Belakangan, namanya beredar di sejumlah partai, ditawarkan sebagai calon wakil presiden 2019. Semua ini berkat peran bapaknya.

Lobi Menuju Cawapres

Nama AHY mulai muncul di survei capres-cawapres sejak Maret 2018. Namun, secara konkret, belum ada lobi-lobi politik yang dilakukan. Demokrat sendiri baru menggelar rapat membahas kriteria capres dan cawapres pada 9 Juli 2018 di rumah SBY di Kuningan.

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat Max Sopacua saat itu mengatakan Demokrat mengharapkan AHY bisa maju dalam Pilpres 2019. Sementara nama di luar Demokrat, ujar Max, baru Jokowi dan Prabowo yang sudah dibicarakan di internal partainya.

“Obsesi pertama dari Demokrat itu AHY. Apakah sebagai cawapres di tahun ini atau 2024 itu adalah obsesi Partai Demokrat. Tetapi bagaimanapun juga [realisasi] obsesi [AHY maju Pilpres] tidak ditentukan sendiri oleh partai demokrat,” kata Max.

Lobi ke eksternal Partai Demokrat baru dimulai saat Prabowo Subianto menjenguk SBY di RSPAD Gatot Soebroto pada 18 Juli 2018. Seharusnya, dua pimpinan partai itu sudah menjadwalkan pertemuan, tapi karena mendadak SBY sakit, pertemuan pun ditunda.

Pertemuan serius antara SBY dan Prabowo baru dilakukan pada 24 Juli 2018 di rumah SBY di Kuningan. Malam itu Prabowo disambut oleh SBY didampingi AHY di depan rumah. Pertemuan itu baru menjajaki kemungkinan koalisi antara Gerindra dan Demokrat.

Pada 30 Juli, SBY mengunjungi Prabowo di rumahnya di Jalan Kertanegara. Kali ini AHY absen mendampingi sang ayah; hanya Ibas dan sejumlah petinggi partai yang hadir. Usai pertemuan, SBY dan Prabowo memberikan keterangan pers bersama. Pada kesempatan itu SBY menegaskan Prabowo adalah calon presiden Demokrat.

“Kami datang dengan satu pengertian, Pak Prabowo adalah calon presiden kami,” kata SBY.

Politik SBY Memecah Koalisi Prabowo

Rivalitas Demokrat dan PKS

Meski sudah ada pernyataan soal capres, SBY menyerahkan nama cawapres kepada Prabowo. Saat itu sudah muncul sejumlah nama yang disodorkan sebagai cawapres Prabowo. PKS yang lebih dulu berkoalisi dengan Gerindra menyodorkan sembilan nama; yang paling santer adalah Salim Segaf Al-Jufri, Ketua Majelis Syuro PKS.

Kelompok yang mengatasnamakan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama menggelar “Ijtima Ulama” yang hasilnya menguatkan pilihan PKS. Ijtima menyodorkan dua nama calon wakil presiden untuk Prabowo, yakni Salim Segaf dan Abdul Somad, ustaz kondang asal Riau. Dua nama ini yang kemudian terus dikawal oleh PKS.

Namun, SBY tak tinggal diam. Usai bertemu Prabowo, masih pada hari yang sama, SBY bertemu dengan Salim Segaf dan para petinggi PKS di Hotel Grand Melia, Kuningan. SBY dan Salim bertemu empat mata, sementara petinggi PKS lain, termasuk Presiden PKS Sohibul Iman, menunggu di lantai berbeda.

Pertemuan ini tidak menghasilkan kesepakatan apa pun. SBY dan Salim justru bernostalgia saat mereka berada dalam satu koalisi. SBY sebagai presiden dan Salim sebagai menteri sosial. Dalam konferensi pers, Salim Segaf menyinggung soal hasil Ijtima Ulama yang merekomendasikan nama sebagai pendamping Prabowo. Sebaliknya, SBY sama sekali tidak menyebut keinginan Demokrat menjadikan AHY sebagai cawapres Prabowo.

“Tentu beliau akan menelaah semuanya, mendengarkan rekomendasi, menghitung pasangan mana yang paling baik untuk memimpin negeri ini, dan tentunya membikin koalisi ini tetap solid,” kaya SBY.

AHY Bermanuver, PKS Kelabakan

Sehari sebelum pendaftaran capres-cawapres dibuka, AHY membuat gebrakan. Ia melakukan orasi bertema “Muda adalah Kekuatan” di Jakarta Theater. Orasi itu dihadiri seribuan anak muda dan disiarkan langsung melalui tvOne.

Lewat orasi itu AHY menegaskan diri sebagai pemimpin muda yang layak diberi kesempatan untuk memimpin bangsa. Ia tak sungkan jika orasi itu dibaca oleh orang-orang sebagai upayanya meyakinkan Prabowo agar memilihnya sebagai cawapres.

“Kalau ini dinilai ada kaitannya dengan situasi politik terakhir, saya kira sah-sah saja, setiap orang akan mereka-reka langkah politik setiap figur, dan bagi saya, saya tidak melihat lebih ke sana, tapi ini merupakan konsistensi saya,” kata AHY, 3 Agustus lalu.

Sebelum itu, AHY sudah mendeklarasikan relawan di Gedung Joang pada 30 Juli. Bahkan baliho foto AHY sudah ramai terlihat di ibu kota dan beberapa daerah.

Saat AHY mulai melancarkan manuver, PKS agaknya gelisah karena Prabowo tak kunjung mengeluarkan nama kandidat pendampingnya.

PKS berkali-kali mengingatkan soal hasil Ijtima Ulama yang sudah diserahkan kepada Prabowo. Sampai-sampai keluar pernyataan dari petinggi PKS bahwa PKS tidak menjamin kebulatan suara ulama dan umat Islam mendukung Prabowo jika rekomendasi Ijtima Ulama ditolak.

Ketua DPP PKS Ledia Hanifa merespons sikap Prabowo yang tak kunjung memilih cawapres yang direkomendasikan oleh Ijtima yang diselenggarakan GNPF Ulama.

“Tergantung siapa yang dipilih. Umat, kan, punya pilihan,” kata Ledia kepada Tirto, 2 Agustus.

Anggota Majelis Syuro PKS Tifatul Sembiring sampai ikut mengingatkan Prabowo agar tetap setia dengan PKS.

“Demokrat istilahnya baru dekat. Kami berharap, ya, kami teman setia,” kata Tifatul sebelum pertemuan Prabowo-SBY.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id – Politik)