Gerakan Literasi Masih Rendah

G

Program literasi yang dikampanyekan sejak 2016 bergerak lambat. Hal tersebut dapat dilihat dari tidak tercapainya target jumlah buku yang dibaca.

Kepala Seksi Kurikulum SMP dan SMA Dispendik DKI Muhammad Husin menjelaskan bahwa penyebaran gerakan literasi terhambat karena tidak ada satuan tugas yang mengawasi proses literasi berlangsung. Padahal, literasi merupakan salah satu metode pendidikan yang dicanangkan dalam K-13. Karena itu, metode tersebut wajib dikuasai pelajar, guru, dan pemangku kepentingan.

“Masih rendahnya kesadaran literasi di kalangan pelajar dapat dilihat dari jumlah buku yangdibaca siswa sejak2016. Padahal, targetnya mencapai 5 juta buku, sedangkan yang dibaca hanya lebih dari 2 juta buku,” kalanya ketika ditemui di kantornya, Kemayoran, lakarta Pusat, kemarin (12/9).

Husin menambahkan, saat itu surat edaran mengenai gerakan literasi dibuat. Meskipun, hingga saat ini, belum 100 persen sekolah yang melakukan gerakan literasi yang dianjurkan dalam surat edaran tersebut.

Gubernur memberikan interupsi dalam Peraturan Gubernur No 77 Tahun 2018yang disahkan bulan lalu. Dengan begitu, surat edaran kembali disebarkan. “Selain itu, karena sekarang ada payung hukumnya, kami akan membentuk satgas. Tujuannya, memastikan keberlangsungan program literasi di sekolah. Saat ini belum ada. Makanya, kami perlu orang yang fokus mengawasi program literasi ini,” ujar Husin.

Nanti, satgas beranggota perwakilan Dinas Pendidikan DKI, pihak sekolah, dan siswa yang tergabungdalam OSIS. “Mereka juga akan berperan untuk melakukan kampanye literasi. Dengan begitu, pelajar lebih mengenal literasi,” tambahnya.

Plt Kadispendik DKI Jakarta Bowo Irianto mendukung semua kegiatan untuk mendorong gerakan literasi di DKI Jakarta. Termasuk realisasi pergub yang mengatur teknis literasi di DKI lakarta itu. “Programnya bisa apa saja. Misalnya, festival literasi dan gerakan membaca,” ucapnya.

(ica/co2/ind)

About the author

By admin

Recent Posts

Recent Comments

Archives

Categories

Meta