Bermimpi Jadi Pemimpin

B

SEORANG cendikiawan muslim, Emha Ainun Najib pemah menyatakan, “Kalau Anda ingin membangun kehancuran masa depan dirimu, masyarakatmu, bangsa dan negerimu, tutuplah pintu masa silam dan simpan ia di ruang hampa kegelapan sampai ke relung ketiadaan.”

Di sisi lain, kita bisa mengutip nash-nash ajaran agama bahwa, Allah Maha Mengabarkan segala apa yang manusia lakukan (Innallaha kiiabirun bima ta’malim). Penegasan Alquran tersebut, menunjukkan betapa pentingnya membuka dan mengabarkan sejarah sebagai pijakan untuk melangkah ke masa depan. Sejarah masa silam ibarat tangga-tangga kehidupan yang tersusun dengan rapi sesuai sunatullah (hukum alam). Jika pihak penguasa menggelapkannya, atau melepas bagian-bagian tertentu dari anak tangga, maka suatu bangsa akan kesulitan untuk melangkah ke puncak-puncak tujuan yang ingin dicapainya.

Sudah lebih dari tujuhpuluh tahun bangsa ini merdeka, namun seakan kita masih bermimpi untuk mendapatkan pemimpin jujur dan adil yang dapat meningkatkan taraf hidup rakyat kepada kemakmuran dan kesejahteraan. Sayidina Ali, sahabat dan menantu Rasulullah merefleksikan paparannya bahwa seorang pemimpin mesti bersatu dalam kalbunya antara suara rakyat dan suara Tuhan. Karena itu, sikap berkhianat kepada rakyat, sama saja dengan ingkar kepada Tuhannya, yang akan membawa rakyat pada penderitaan dan kesengsaraan hidup, baik secara jasmani dan rohani.

Pelayanan terbaik kepada rakyat mestinya jadi faktor utama yang selalu menjadi pusat konsentrasi mereka. Pola pikir (mindset) kebanyakan politisi kita yang menganggap jabatan sebagai tujuan, harus diubah seratus delapan puluh derajat, menjadi jabatan sebagai alat untuk menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya. Hal ini bukan suatu ide
dan gagasan baru, melainkan suatu konsep kepemimpinan yang sudah utuh dan matang. Tinggal kembali kepada sejarah 1.400 tahun yang lalu, ketika Rasulullah menyatakan bahwa pemimpin kalian adalah pelayan kalian.

Bila diibaratkan dalam ilmu fiqih, rakyat Banten dan Indonesia di era reformasi ini seakan-akan sedang melakukan thaharah (pembersihan diri), namun air yang digunakannya adalah air musta’mal (kotor). Karena kesulitan mendapatkan air, masyarakat beramai-ramai melakukan tayamum. Tapi rupanya mereka pun kesulitan mendapatkan debu yang benar-benar suci dari najis, baik najis mughaladzah (berat) maupun mutawasithah (menengah).

Seandainya fokus utama pemimpin dalam mengambil keputusan adalah kehendak Tuhan dan rakyat, maka resonansi gelombang hidayah begitu kuat. Tapi jika pertimbangan utamanya adalah kolega, sponsor, konstituen dan kroni partai, tidak menutup kemungkinan akan jauh dari petunjuk Tuhan, karena mereka sendiri yang telah mengabaikannya.

Fenomena masyarakat Banten pada umumnya belum beranjak dari hasrat dan nafsu duniawi yang menyelimutinya. Meskipun usia reformasi di republik ini hampir berbarengan dengan pembentukan provinsi Banten yang dikenal sebagai ras pemberontak (wanten).

Ketika ada pemilihan pemimpin atau ketua organisasi apapun, di mana pada posisi itu terdapat nilai materi seperti fasilitas dan gaji tinggi, masyarakat kita cenderung berebut untuk menduduki posisi jabatan. Bukan hanya melakukan praktik kecurangan seperti money politic kepada para calon pemilih, melainkan juga melakukan penyuapan kepada pihak-pihak yang seharusnya mengawasi jalannya pemilihan tersebut.

Selama hampir dua dasawarsa ini, warga Banten sebagai “ras pemberontak” belum menunjukkan kualitas perlawanan untuk menggugat dan menentang kesewenangan dan ketidakadilan. Beda dengan zaman Kiai Wasid dan Kiai Syam’un di saat kekuatan rakyat berkolaborasi dengan petuah dan fatwa ulama, menyuarakan misi kebenaran dan keadilan sebagai motor penggerak untuk melawan kesewenangan kaum penjajah.

Saat ini, kita melihat berbagai fakta di hampir setiap lini lembaga, baik pemerintah maupun organisasi masyarakat yang sama-sama terjangkit virus “hubuddunya” (cinta dunia), hingga nekat saling sikut kiri-kanan untuk memperebutkan posisi tertinggi.

Begitupun di tingkat perusahaan, baik BUMN maupun swasta, di samping memperebutkan posisi manajer dan direktur, sesama pekerja dan karyawan saling sibuk jegal sana-sini agar memperoleh promosi jabatan.

Bahkan di posisi guru ngaji dan ketua RT, yang dulu saling mengalah untuk menunjuk satu sama lain, tapi ketika santer terdengar kabar bahwa akan ada gaji yang menggiurkan, ramai-ramai pula saling jegal sana-sini. Jadi, manfaat ekonomi yang didapatkan dalam sebuah jabatan di Banten ini, telah menjadi penyebab utama banyaknya orang berebut posisi, mulai dari tingkat RT, lurah hingga ke tingkat provinsi.

Jika Rasulullah sekitar 1.400 tahun lalu pemah bersabda bahwa setiap diri kita adalah pemimpin, secara logika bangsa ini – yang mayoritas umat Islam – mestinya tidak kebingungan untuk menentukan siapakah yang pantas menjadi pemimpin. Inilah problem krusial yang sedang dihadapi bangsa ini, yang juga menjadi kritikan tajam bagi kita semua, apakah diri kita ini ternyata tidak layak menjadi pemimpin, hingga seringkali terseret arus dalam labirin kegelapan ciptaan diri kita sendiri.

Lalu, bagaimana cara mendidik generasi muda Banten agar mengenali karakter keadilan dan keteladanan seorang pemimpin? Jawabannya tak lain, bahwa kita harus berani memulai dari diri kita sendiri. Karena pada prinsipnya, perubahan adalah klise dan semu jika kita menuntut pihak lain tanpa mau mengawali dari perubahan diri.

Perubahan juga tidak punya ruh dan energi jika tidak dimulai dari kesadaran diri untuk memancarkan energi kepada pihak lain. Jika kita konsisten memulai dari hal-hal kecil, dari diri sendiri, dan dari saat ini juga, niscaya apa yang kita lakukan akan berdampak positif dalam kehidupan masyarakat di sekitar kita.

Terkait dengan ini, Sayidina Ali pemah menawarkan konsep “ibda binafeika” yang maksudnya tak ada pembahan kecuali dari diri sendiri. Tak ada pembahan yang terjadi secara makro, tanpa adanya kesadaran untuk memulai pembahan secara mikro.

Hal ini mengingatkan kita pada hikmah tentang kisah seorang raja yang menyesali dirinya karena tidak sanggup mengubah dunia yang menjadi obsesinya sejak usia muda. Kini, di usianya yang sudah senja dan rambut memutih (kira-kira sepantaran Trump dan SBY), dengan tatapan menerawang, sang raja akhirnya berkata di hadapan seluruh keluarga besarnya di pembaringan:

“Sewaktu aku muda dulu, aku ingin sekali mengubah dunia. Tapi aku membayangkan betapa sulitnya mengubah dunia, hingga aku putuskan untuk mengubah negeriku saja. Setelah aku menyadari betapa sulitnya mengubah negeriku, aku pun memutuskan untuk mengubah kotaku saja.

Lambat laun, aku menyadari betapa sulitnya mengubah sebuah kota hingga aku putuskan untuk mengubah keluargaku saja.

Tak terasa umurku sudah menua, dan rasanya aku pun tak sanggup untuk mengubah keluargaku, hingga sampai pada keputusan bahwa aku hanya sanggup untuk mengubah diriku saja.

Pada saat ini aku pun mulai menyadari, seandainya aku mau memulai dengan mengubah diriku sejak usia muda, tentu aku akan sanggup mengubah keluargaku, kotaku, negeriku, hingga pada akhirnya aku pun mampu mengubah seluruh dunia…” (*)

Pengasuh Ponpes Riyadlul Fikar, Jawilan, Serang.

About the author

By admin

Pos-pos Terbaru

Komentar Terbaru

Arsip

Kategori

Meta

admin